Tidak Sempat Melaksanakan Shalat Tahajud, Adakah Amalan Lain yang Bisa Menggantikan?

Sumber foto dari google.com
HIJAZ.ID Salah satu amalan sunnah yang sangat dianjurkan untuk dilakukan serta memiliki banyak keutamaan salah satunya adalah shalat Tahajud. Shalat tahajud–atau disebut dengan shalat lail (malam)–merupakan ibadah yang sangat ulama. Tidak pantas bagi seorang muslim untuk menyepelekannya.

Lalu, bagaimana jika seseorang tidak sempat melakukannya karena ada suatu udzur tertentu? Berikut ini penjelasan dari Ustadz Ammi Nur Baits selaku pembina di Dewan Konsultasi Syariah (dot) (com).

Perhatikanlah sabda Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam berikut,

عَنْ أَبِيْ هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: أَفْضَلُ الصِّيَامِ بَعْدَ رَمَضَانَ شَهْرُ اللهِ اَلْمُحَرَّمُ وَأَفْضَلُ الصَّلاَةِ بَعْدَ الْفَرِيْضَةِ صَلاَةُ اللَّيْلِ

Dari Abu Hurairah, dia berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
“Puasa yang paling utama setelah puasa ramadhan adalah puasa muharram, dan shalat yang paling utama setelah shalat fardhu adalah shalat lail (malam).
” (HR. Muslim, no. 1163).

Bahkan, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mencela orang yang melalaikannya, berdasarkan hadis,

عَنْ عَبْدِ اللهِ بْنِ مَسْعُوْدٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ: ذُكِرَ عِنْدَ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ رَجُلٌ نَامَ لَيْلَةً حَتَّى أَصْبَحَ. قَالَ: ذَاكَ رَجُلٌ بَالَ الشَّيْطَانُ فِيْ أُذُنَيْهِ أَوْ قَالَ فِيْ أُذُنِهِ

Dari Abdullah bin Mas’ud, dia berkata, “Pernah diceritakan pada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang seorang laki-laki yang tidur malam hingga shubuh. Lalu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Setan telah kencing pada kedua telinganya,” atau beliau bersabda, “… pada telinganya.” (HR. Bukhari, no. 1144; Muslim, no. 774)

Serta masih banyak lagi dalil tentang keutamaan shalat lail ini. (Lihat Riyadhush Shalihin, hlm. 426–431, karya Imam Nawawi)

Seorang muslim yang memiliki kebiasaan shalat malam, kemudian pada malam tertentu dia tidak sempat melaksanakannya karena udzur tertentu, maka dia bisa menggantinya dengan melaksanakan shalat sunah di waktu dhuha sebanyak jumlah rakaat shalat malam  yang menjadi kebiasaannya ditambah satu, sebagai penggenapan.

Baca Juga : Memberi Hadiah Ketika Masih Proses Ta’aruf, Bagaimana Hukumnya?

Misalnya, seseorang memiliki kebiasaan tahajud 3 rakaat, jika tidak sempat melaksanakannya karena sebab tertentu maka dia bisa menggantinya dengan shalat di waktu dhuha 4 rakaat. Dalilnya,

Dari A’isyah radhiallahu ‘anha, beliau mengatakan,

أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- كَانَ إِذَا فَاتَتْهُ الصَّلاَةُ مِنَ اللَّيْلِ مِنْ وَجَعٍ أَوْ غَيْرِهِ صَلَّى مِنَ النَّهَارِ ثِنْتَىْ عَشْرَةَ رَكْعَةً

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam punya kebiasaan ketika tidak mengerjakan shalat malam karena sakit atau yang lainnya, beliau shalat di siang harinya sebanyak 12 rakaat.” (HR. Muslim 746).

Wallahu a’lam bish shawab.

Baca Juga : Inilah 4 Hukuman Terberat yang Allah Ta’alaa Jatuhkan Pada Kaum LGBT