Haramkah Gaji yang Didapat dari Pekerjaan yang Didapat Karena Menyogok?

Sumber foto dari google.com
HIJAZ.ID Salah satu upaya untuk memenuhi kebutuhan hidup yang banyak ragamnya adalah dengan bekerja. Hal tersebut menjadi penting karena jika tidak bekerja maka seseorang tentu akan menimpakan beban kebutuhan hidup primernya kepada orang lain, bisa kepada orangtua ataupun lainnya.

Tapi, bagi yang sudah mampu dalam hal tenanga dan juga umur, bekerja adalah solusi untuk terbebas dari kemiskinan. Bekerja tidak mesti harus berada di dalam kantor dengan ruangan yang khusus, bekerja dapat dilakukan dalam jenis apapun selama pekerjaan yang digeluti masih hal dan tidak menyalahi aturan syariat.

Bekal utama ketika kita akan dan bahkan ketika bekerja adalah jujur. Sifat tersebut menjadi modal utama. Jujur membuat orang-orang menjadi percaya. Sebagaimana yang telah diajarkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sampai pada akhirnya beliau mendapat gelar “Al-Amin”, karena saking tingginya kualitas kejujuran dan amanah yang dimiliki oleh beliau.

Tetapi, bagaimana jika seseorang mendapatkan pekerjaan dengan cara yang tidak halal seperti menyuap salh satunya. Apakah gajinya halal atau bahkan menjadi haram? Berikut ini penjelasan dari Ustadz Ammi Nur Baits selaku pembina di Dewan Konsultasi Syariah (dot) (com).

Kita semua yakin bahwa melakukan sogok untuk mendapatkan sesuatu yang bukan hak-nya hukumnya haram, bahkan termasuk dosa besar. Yang menanggung dosa bukan hanya penerima sogok, termasuk orang yang menyogok.

Termasuk dalam hal ini adalah menyogok untuk mendapatkan pekerjaan. Semua pihak yang terlibat dalam ‘tindak kriminal’ ini turut mendapatkan laknat atas perbuatannya, sampai dia bertaubat.

Baca Juga : Memberi Hadiah Ketika Masih Proses Ta’aruf, Bagaimana Hukumnya?

Untuk kasus sogok dalam rangka mendapatkan pekerjaan, selama penerimaan pegawai untuk lowongan pekerjaan itu berdasarkan tes setiap pelamar, maka sogok dalam kasus ini statusnya haram. Karena sogok bukanlah alasan untuk menentukan siapa yang lebih unggul dan lebih berhak mendapatkan pekerjaan tersebut, dan posisi pekerjaan tersebut bukanlah hak bagi penyogok.

Barangkali orang yang masih penerapkan praktik ‘kotor’ semacam ini perlu merenungkan hadis:

لَعَنَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الرَّاشِيَ وَالْمُرْتَشِيَ

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melaknat orang yang nyogok dan penerima sogok.” (HR. Abu Daud, Turmudzi, Ibnu Majah, dan dishahihkan Al-Albani)

Bagaimana Status Gajinya?

Jika si pegawai hasil nyogok ini telah bertaubat kepada Allah, dan telah mensedekahkan sebagian hartanya, maka tidak masalah dia tetap bertahan di posisi tersebut. Dengan syarat: Dia memiliki kemampuan yang memadai untuk melaksanakan tugasnya tersebut, karena mengampu pekerjaan, sementara dia tidak memliki kemampuan termasuk mengkhianati amanah. Dan dampak buruk perbuatannya bisa jadi menimpa banyak orang.

Disadur dari:
Fatawa Islam, oleh Syaikh Muhammad Al-Munajed, no. 112128

Wallahu a’lam bish shawab.

Baca Juga : Inilah 4 Hukuman Terberat yang Allah Ta’alaa Jatuhkan Pada Kaum LGBT

Originally posted 2018-02-04 23:39:21.