Mengapa Harus Menutup Pintu Menjelang Malam Hari?

Sumber foto dari google.com
HIJAZ.ID Salah satu tanda kebesaran Allah Ta’alaa adalah adanya pergantian siang dan malam. Hal tersebut penting untuk kita renungkan juga sebagai bahan penguatan aqidah. Betapa Maha Besar Allah dengan segala ciptaan-Nya.

Berbicara malam, ada beberapa hal yang penting untuk dibahas, salah satunya adalah mengenai suatu hadits yang menyebutkan bahwa anak-anak tidak boleh berada di luar ketika matahari tenggelam, pu pintu harus ditutup. Benarkah demikian? Apa alasannya? Berikut ini penjelasan dari Ustadz Ammi Nur Baits selaku pembina di Dewan Konsultasi Syariah (dot) (com).

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

Apabila malam telah datang (setelah matahari tenggelam), tahanlah anak-anak kalian, karena setan bertebaran ketika itu. Apabila telah berlalu sesaat dari waktu ‘Isya lepaskanlah (biarkanlah) mereka. Tutuplah pintumu, dan sebutlah nama Allah karena syaitan tidak membuka pintu yang tertutup…” (HR. Al-Bukhari No. 3280 dan Muslim No. 2012)

Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan pada teks hadits yang disebutkan oleh penanya:
Pertama, kata syaithan mencakup seluruh jenis syaithan, baik dari kalangan jin maupun manusia, karena, dalam Al-Qur`an, Allah Subhânahu wa Ta’âlâ menyebut syaithan dari kalangan jin dan manusia sebagaimana dalam firman-Nya,

وَكَذَٲلِكَ جَعَلۡنَا لِكُلِّ نَبِىٍّ عَدُوًّ۬ا شَيَـٰطِينَ ٱلۡإِنسِ وَٱلۡجِنِّ يُوحِى بَعۡضُهُمۡ إِلَىٰ بَعۡضٍ۬ زُخۡرُفَ ٱلۡقَوۡلِ غُرُورً۬ا‌ۚ وَلَوۡ شَآءَ رَبُّكَ مَا فَعَلُوهُ‌ۖ فَذَرۡهُمۡ وَمَا يَفۡتَرُونَ . ١١٢

Dan demikianlah Kami mengadakan musuh bagi tiap-tiap nabi itu, yaitu syaithan-syaithan (dari jenis) manusia dan (dari jenis) jin, sebagian mereka membisikkan perkataan-perkataan indah kepada sebagian yang lain untuk menipu (manusia).” [Al-An’am; 112]

Kedua, berkaitan dengan perintah menutup pintu, Ibnu Daqîq Al-‘Îd rahimahullâh menjelaskan, “Pada perintah menutup pintu, terdapat berbagai kemashlahatan agama dan dunia berupa penjagaan jiwa dan harta dari para pelaku kejelekan dan kerusakan, terutama para syaithan ….” (Fath Al-Bâry, 11/87)

Baca Juga : Memberi Hadiah Ketika Masih Proses Ta’aruf, Bagaimana Hukumnya?

Dengan memperhatikan dua keterangan di atas, pintu samping (yang disebutkan oleh penanya) bila tidak ditutup akan mungkin berdampak tidak baik maka hadits di atas adalah anjuran untuk menutupnya. Bila dia merasa aman dari hal yang membahayakannya, pintu tersebut boleh saja tidak ditutup.

Mengikutkan anak-anak ke masjid untuk menunaikan shalat Maghrib adalah perkara yang baik. Hal tersebut tidak bertentangan dengan larangan yang terkandung dalam hadits yang disebutkan. Yang terlarang dalam hadits adalah membiarkan anak-anak keluyuran dan bertebaran, yang hal ini berbeda dengan menghadiri pelaksanaan shalat di masjid.

Etika menghadirkan anak-anak ke masjid berlaku pada semua shalat, termasuk shalat maghrib. Etika tersebut kembali kepada maksud dan tujuan syariat memperbolehkan sang anak dihadirkan ke masjid. Maksud tersebut adalah untuk menunaikan ibadah dan membiasakan sang anak dengan shalat lima waktu, dengan menjaga agar sang anak tidak mengganggu orang-orang yang mengerjakan shalat, baik gangguan berupa suara maupun perbuatan.

Tidak ada ukuran umur terntentu dalam menghadirkan anak ke masjid. Tatkala seorang anak telah layak untuk dibiasakan mengerjakan shalat, hal tersebut adalah ukuran kelayakan sang anak untuk dihadirkan ke masjid.

Wallahu a’lam bish shawab.

Baca Juga : Inilah 4 Hukuman Terberat yang Allah Ta’alaa Jatuhkan Pada Kaum LGBT

Originally posted 2018-02-05 12:39:13.