Mudah Dilakukan Namun Menjadi Pemberat Timbangan Dosa yang Luar Biasa!

Sumber foto dari google.com
HIJAZ.ID Lisan tak bertulang namun ketajamannya melebihi sayatan pedang yang sudah di asah. Hal ini bukan sekedar peribahasa tetapi nyata adanya. Bahaya lisan itu mudah melakukan kemaksiatan namun menjadi pemberat timbangan dosa yang sangat luar biasa pengaruhnya.

Maka, kita sebagai muslim penting untuk mengetahui ilmu tentang lisan mulai dari cara menjaganya sampai dengan akibat-akibat mengerikan yang akan di alami jika kita tidak pandai dalam menjaga lisan. Berikut ini penjelasan dari Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal.

Allah Ta’alaa berfirman,

 

إِذْ تَلَقَّوْنَهُ بِأَلْسِنَتِكُمْ وَتَقُولُونَ بِأَفْوَاهِكُمْ مَا لَيْسَ لَكُمْ بِهِ عِلْمٌ وَتَحْسَبُونَهُ هَيِّنًا وَهُوَ عِنْدَ اللَّهِ عَظِيمٌ (15) وَلَوْلَا إِذْ سَمِعْتُمُوهُ قُلْتُمْ مَا يَكُونُ لَنَا أَنْ نَتَكَلَّمَ بِهَذَا سُبْحَانَكَ هَذَا بُهْتَانٌ عَظِيمٌ (16)

(Ingatlah) di waktu kamu menerima berita bohong itu dari mulut ke mulut dan kamu katakan dengan mulutmu apa yang tidak kamu ketahui sedikit juga, dan kamu menganggapnya suatu yang ringan saja. Padahal dia pada sisi Allah adalah besar. Dan mengapa kamu tidak berkata, di waktu mendengar berita bohong itu: “Sekali-kali tidaklah pantas bagi kita memperkatakan ini, Maha Suci Engkau (Ya Rabb kami), ini adalah dusta yang besar.” (QS. An-Nuur: 15-16)

Penjelasan Ayat

Berita bohong yang tersebar dari mulut ke mulut padahal berita itu batil dan tidak didasari ilmu, lalu dianggap suatu yang ringan (sepele) padahal di sisi Allah sangatlah besar. Syaikh As-Sa’di mengatakan bahwa ayat ini adalah peringatan keras mengenai sebagian dosa yang dianggap remeh. Padahal dosa itu bisa berlipat-lipat ketika dianggap remeh seperti itu.

Seharusnya jika menghadapi berita tuduhan dusta yang tidak benar, yang dikedepankan adalah husnuzhan. Kita harus berani mengatakan terhadap berita tersebut, “Mahasuci Allah, ini adalah dusta yang besar.”

1. Hati-hati menganggap remeh dosa.

Disebutkan hadits dalam Shahih Bukhari,

عَنْ أَنَسٍ – رضى الله عنه – قَالَ إِنَّكُمْ لَتَعْمَلُونَ أَعْمَالاً هِىَ أَدَقُّ فِى أَعْيُنِكُمْ مِنَ الشَّعَرِ ، إِنْ كُنَّا نَعُدُّهَا عَلَى عَهْدِ النَّبِىِّ – صلى الله عليه وسلم – الْمُوبِقَاتِ

Dari Anas radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, “Sesungguhnya kalian melakukan suatu amalan dan menyangka bahwa itu lebih tipis dari rambut. Namun kami menganggapnya di masa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagai sesuatu yang membinasakan.” (HR. Bukhari, no. 6492).

Baca Juga : Memberi Hadiah Ketika Masih Proses Ta’aruf, Bagaimana Hukumnya?

Abu Ayyub Al-Anshari berkata,

إِنَّ الرَّجُل لَيَعْمَلُ الْحَسَنَةَ فَيَثِقُ بِهَا وَيَنْسَى الْمُحَقَّرَاتِ فَيَلْقَى اللَّهَ وَقَدْ أَحَاطَتْ بِهِ ، وَإِنَّ الرَّجُلَ لَيَعْمَلُ السَّيِّئَةَ فَلَا يَزَالُ مِنْهَا مُشْفِقًا حَتَّى يَلْقَى اللَّه آمِنًا

“Sesungguhnya seseorang melakukan kebaikan dan terlalu percaya diri dengannya dan meremehkan dosa-dosa, maka ia akan bertemu dengan Allah dalam keadaan ia penuh dengan dosa. Sesungguhnya seseorang melakukan kejeleken dalam keadaan terus merasa bersalah, maka ia akan bertemu dengan Allah dalam keadaan aman.” (Lihat Fath Al-Bari, 11:330)

Contoh dosa yang dianggap remeh adalah yang kaitannya dengan kencing.

Dari Ibnu ‘Abbas, ia berkata bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah melewati salah satu sudut kota Madinah atau Makkah, lalu beliau mendengar suara dua orang yang sedang diazab di kubur. Beliau pun bersabda,

يُعَذَّبَانِ، وَمَا يُعَذَّبَانِ فِي كَبِيرٍ، بَلَى، كَانَ أَحَدُهُمَا لاَ يَسْتَتِرُ مِنْ بَوْلِهِ، وَكَانَ الآخَرُ يَمْشِي بِالنَّمِيمَةِ

Mereka berdua disiksa. Mereka menganggap bahwa itu bukan perkara besar, namun sesungguhnya itu perkara besar. Orang yang pertama disiksa karena tidak menutupi diri ketika kencing. Adapun orang yang kedua disiksa karena suka mengadu domba.” (HR. Bukhari, no. 216 dan Muslim, no. 292).

Ada tiga tafsiran untuk sabda Nabi “Mereka tidak disiksa untuk perkara yang berat ditinggalkan, namun itu perkara besar“:

  • Mereka yang disiksa menganggap bahwa hal itu bukan perkara besar (dosa besar).
  • Kedua hal tersebut tidak berat untuk ditinggalkan.
  • Mereka menganggap itu bukan dosa yang lebih besar dari dosa besar. Kata Imam Nawawi, tafsiran ketiga ini menunjukkan bahwa siksa kubur bukan hanya diberi lantaran dosa besar. Dosa selain dosa besar pun bisa dikenakan siksa kubur. (Lihat Syarh Shahih Muslim, 3:179).

2. Kesalahan yang biasa dilakukan kita menyebar sebuah berita tidak benar kepada yang lain. Ada dua kesalahan yang dilakukan: (a) sudah meyakini itu dusta, (b) menyebar kedustaan pada yang lain.

3. Diharamkan berkata tentang Allah tanpa ilmu.

4. Hati-hati jika menganggap sesuatu yang dianggap besar di sisi Allah sebagai suatu yang remeh (ringan).

5. Tidak pantas keluarga Nabi dituduh berzina.

6. Ucapan “subhanaka” dalam ayat di atas punya maksud untuk menyucikan dari apa yang dituduhkan kepada keluarga Nabi.

7. Hendaklah mengedepankan husnuzhan (prasangka baik) kepada orang lain daripada suuzhan (prasangka jelek).

Wallahu a’lam bish shawab.

Baca Juga : Inilah 4 Hukuman Terberat yang Allah Ta’alaa Jatuhkan Pada Kaum LGBT