Banjir Bonus dan Makin Digemari Pengguna, Benarkah Dalam Go-Pay Terselip Riba?

via Go-Jek.com

HIJAZ.ID – Dewasa ini, kemajuan teknologi memang sudah dirasakan oleh hampir seluruh masyarakat di belahan dunia. Bukan hanya sebagai alat komunikasi, bahkan hampir semua lini kehidupan masyarakat kini sudah dimudahkan oleh kecanggihan teknologi yang semakin berkembang.

Dalam kegiatan transaksi misalnya, kemunculan berbagai fitur yang memudahkan para pengguna untuk melakukan transaksi sudah pasti akan mendapat tempat nomor satu di hati masyarakat. Sebut saja Go-jek, salah satu aplikasi yang makin digandrungi oleh masyarakat tersebut memang memiliki banyak tawaran yang cukup menarik.

Aplikasi yang dapat diinstal pada smartphone tersebut memang menyediakan berbagai kemudahan untuk melakukan transaksi secara online. Mulai dari transportasi, makanan, kirim barang, hingga berbagai fitur lainnya tersedia pada aplikasi Go-Jek.

Menariknya lagi, Go-Jek juga dilengkapi dengan opsi pembayaran jasa menggunakan sistem online atau yang disebut dengan Go-Pay. Selain lebih mudah karena bisa digunakan untuk transaksi kapanpun dan dimanapun, pengguna Go-Jek yang memanfaatkan fitur Go-Pay juga akan mendapatkan potongan harga yang tidak didapatkan oleh pengguna yang membayar secara cash.

Kemudahan transaksi menggunakan Go-Pay tersebut rupanya membuat masyarakat makin tertarik dan memilih untuk memanfaatkan kemudahan bertransaksi menggunakan fitur Go-Pay. Potongan harga dan promo ongkos kirim yang kerap diberikan bagi pengguna Go-Pay juga seakan menjadi magnet yang makin menarik pelanggan untuk menggunakan Go-Pay.

Makin tingginya masyarakat yang memilih Go-Pay sebagai sarana pembayaran dalam menggunakan aplikasi Go-Jek rupanya menimbulkan berbagai spekulasi. Bukan soal seberapa besar keuntungan yang didapatkan oleh pengguna Go-Pay, melainkan perihal hukum transaksi menggunakan Go-Pay berdasarkan syariat agama.

Seperti yang baru-baru ini terjadi, beberapa kabar menyebut bahwa menggunakan fitur Go-Pay pada Go-Jek termasuk kategori riba dengan alasan adanya potongan harga dalam Go-Pay yang tidak didapatkan dengan cara pembayaran secara cash.

Alasan tersebut berdasar pada kajian fiqih yang menganggap penyimpanan uang yang menjadi saldo dalam Go-Pay tergolong akad qard (hutang) pada pihak Go-Jek, dimana saat pihak Go-Jek mengembalikan uang kepada konsumen melalui pemanfaatan jasa dalam aplikasi Go-Jek, maka harus bernilai sama dengan konsumen lain ketika mereka membayar atas jasa yang digunakan secara cash.

Pendapat tersebut bertolak belakang dengan realita yang terjadi pada cara kerja Go-Pay. Pada fitur ini, konsumen yang membayar via Go-Pay dengan membayar secara cash nominal pembayaran cenderung berbeda. Lalu benarkah jika dalam transaksi menggunakan Go-Pay tersimpan unsur riba?

Sebelum berbicara lebih jauh tentang adanya unsur riba yang terkandung dalam transaksi menggunakan Go-Pay, perlu diketahui bahwa riba sendiri merupakan bunga yang dibebankan kepada pihak yang diberi pinjaman. Riba juga bersifat merugikan lantaran terkesan sebagai bentuk penindasan yang berupa keuntungan sepihak dari pihak penghutang kepada penerima hutang.

Nah, sedangkan pada transaksi menggunakan Go-Pay nyatanya tidak ada pihak yang merasa dirugikan. Pada prakteknya, konsumen mendapat keuntungan berupa kemudahan pembayaran dan mendapatkan potongan harga, sedangkan pihak Go-Jek mendapat keuntungan berupa pengelolaan uang deposit dari konsumen.

Perlu juga dipahami, bahwa transaksi penyimpanan uang dalam Go-Pay memang cenderung lebih pas untuk dikategorikan sebagai akad Qard (hutang). Dalam hal ini, pengguna Go-Pay akan menyetorkan uangnya kepada perusahaan dalam artian Go-Jek, untuk memudahkan transaksi secara online.

via Go-Jek.com

Bahkan, Go-Pay sendiri bukan hanya diproyeksikan untuk mendapatkan potongan harga, melainkan juga untuk memudahkan konsumen dalam hal pembayaran yang relatif lebih mudah via online daripada cash.

Selain itu, tidak diberlakukannya syarat ketika melakukan akad serta tidak adanya perubahan nominal dana yang sudah didepositkan kepada pihak Go-Jek saat dilakukan penarikan oleh konsumen juga menunjukkan bahwa tidak ada riba dalam pembayaran via Go-Pay.

Pembayaran yang dilakukan oleh pengguna Go-Pay dalam hukum fiqih dikategorikan sebagai ijarah (sewa), dimana konsumen diperbolehkan membayarkan uangnya sebelum mendapatkan manfaat dari apa yang mereka beli. Hal ini sesuai dengan hadis nabi Muhammad SAW.

Dari Ibnu ‘Umar Radhiyallahu anhuma, ia berkata, “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

أَعْطُوا اْلأَجِيْرَ أَجْرَهُ قَبْلَ أَنْ يَجِفَّ عَرَقُهُ

“Berilah upah kepada para pekerja sebelum mengering keringatnya.”

Perihal potongan harga yang kerap diberikan pihak Go-Jek kepada pengguna Go-Jek merupakan bagian dari bonus yang diberikan perusahaan kepada konsumen. Dalam hukum islam, bonus tersebut dikategorikan sebagai bagian dari akad salam (pesanan) dimana keuntungan konsumen ketika mengadakan akad salam adalah konsumen mendapatkan barang dengan harga murah, sedangkan penjual mendapat modal untuk membeli barang dagangan lebih cepat.

ولأن الناس حاجة إليه لأن أرباب الزروع والثمار والتجارات يحتاجون إلى النفقة على أنفسهم وليها لتكمل وقد تعوزهم النفقة فجوز لهم السلم ليرتفقوا ويرتفق المسلم بالاسترخاص

“Manusia sangat membutuhkan akad ini, karena pemilik tanaman atau buah-buahan atau barang dagangan butuh modal untuk dirinya, sementara mereka kekurangan modal itu. Sehingga boleh melakukan akad salam, agar mereka bisa terbantu, dan konsumen mendapat manfaat dengan adanya diskon” (Al-Mughni, 4/338).

Pada prinsipnya, pemilik barang berhak untuk menentukan harga barangnya, selama harganya jelas. Sedangkan, penjual juga berhak memberikan diskon, bagi konsumen yang membeli dengan pembayaran tunai di muka sebelum barang diserahkan. Hal ini senada dengan yang dilakukan oleh pihak Go-Jek yang memberikan ketentuan harga lebih murah bagi pegguna fitur Go-Pay.